E. Inayat Ilahi

Posted by Ibnu Nurdin | 3:34 PM

Pada keterang-kererangan yang lalu pembaca telah tahu bahawa seluruh tumbuh-tumbuhan dan makhluk yang bernyawa tersusun daripada makhluk yang hidup. Yang bila dikumpulkan agak 100 ribu banyaknya belum akan sebesar jarum. Ia kemudian tersusun menjadi buah, menjadi daun, tulang, daging dan seterusnya, dipatrikan oleh zat-zat kimia yang mengandung empat unsur, iaitu:

  1. Oksigen.
  2. Hidrogen.
  3. Nitrogen.
  4. Karbonium.

Oksigen, gas yang bole membakar walau benda yang dingin sekalipun.

Hidrogen, gas yang lunak juga sebagai oksigen, tetapi lebih ringan. Setengah dari khasiatnya, jika dia tercampur dengan oksigen dapat menghasilkan air. Air di lautan, di daratan dan di awan, semuanya tersusun daripada oksigen dan hidrogen.

Nitrogen, gas lunak seperti oksigen juga tetapi jaauh berbeza dari oksigen dan hidrogen. Kalau nitrogen berkumpul dengan oksigen, menghasilkan zat kental yang keras pengaruhnya, setengah daripada ialah nitrit iaitu air perak yang boleh menarik perak dan barang-barang logam dan boleh pula membunuh yang bernyawa dan tumbuh-tumbuhan.

Kalau bersatu oksigen dan hidrogen pada pertemuan mula-mula timbullah air saja. Kalau beratus oksigen dan karbonium timbullah suatu gas yang mengandung racun. Jika bersatu pula oksigen dengan nitrogen, timbullah zat cair yang boleh memakan barang yang dikenainya. Jika bersatu hidrogen dengan karbonium timbul gas yang boleh membakar. Kalau berkumpul sekali keempatnya, timbullah suatu zat yang tersusun rapi tidak boleh mengenai kehidupan, kebanyakan membahayakan bagi kehidupan.

Kita tidak ahli kimia, sebab itu cukup sedikit saja keterangan bagaimana khasiat zat mempertalikan di antara segala benda dalam alam ini. Sekarang timbul pertanyaan: Siapakah agaknya yang sanggup membuat suatu aturan atau membuat khasiat yang lain dari begitu?

Mengapa jika 'ini' dan 'itu' bercampur menghasilkan air? Zat 'a' dengan zat 'b' bercampur menghasil air keras? Siapakah yang sanggup di antara ahli-ahli itu membuat aturan lain, supaya timbul suatu zat yang berlain dari khasiat yang terjadi sejak percampuran itu?

Siapakah yang memberi kekuatan kepada benda kecil itu? Sehingga pada tumbuh-tumbuhan dia menjadikan tumbuh-tumbuhan? Pada ikan menjadikan ikan? Burung menjadikan burung? Manusia menjadikan manusia? Mengapa benda yang menciptakan manusia tidak menimbulkan buah kayu? Padahal zat itupada asalnya hanya satu saja, serupa yang ada pada ikan dengan yang ada pada manusia.

Kalau oksigen itu ada di dalam udara, mengapa udara tidak membakar manusia? Kalau sekiranya oksigen yang ada dalam tubuh manusia jadi air, mengapa sepertiga tubuh itu tidak pernah jadi air? Menapa oksigen badan tidak bercampur dengan nitrogen sehingga dia menjadi suatu barang cair yang boleh menelan tubuh?

Apakah hal yang sangat ganjil dan ajaib itu terjadi dengan tiba-tiba? Adakah peraturan yang dijalaninya dan penjagaan yang mengatur jalannya? Kalau asal benda kecil yang diteropong oleh ahli-ahli itu hendak kembang dalam badan dan mengalirkan hidup kepada yang lain, sehingga badan jadi daging semua tidak bertulang, apakah salahnya? Kalau telingamu terjadi dari buah durian, tulangmu terjadi dari tulang gajah dan matamu dari buah epal, siapakah yang melarang?

Semuanya tidak boleh jadi sebab ada yang melarangnya. Orang yang rasional berfikir bebas, yang masih bingung belumlah dapat menamai, tetapi yang keras kepala sudah dapat menamainya, iaitu 'kebetulan', sudah demikian adanya. Tetapi yang insaf, yang benar-benar bebas berfikir, tidak dapat tidak tentu akan mengakui bahawa memang ada yang mengatur semuanya itu. Kalau dia juga mahu mengaku tandanya dia tidak rasional. Tidak bebas berfikir.

Segala perjalanan itu ialah dengan Inayat Allah>

1. Inayat Ilahi.

Orang yang memeluk agama ada juga yang ragu. Mereka mengatakan Allah hanya berkuasa mengatur barang yang besar saja. Mengatur bumi, langit, bintang-bintang dan alam besar seisinya. Adapun yang kecil tidak diatur oleh Allah.

Kalau Inayat Ilahi itu hanya mengatur yang besar-besar saja seperti persangkaan mereka tentu akan kacau alam ini, sebab mengatur hidup terserah saja kepada kehendak benda kecil itu.

Tentu akan terjadi seseorang yang berniat menanam padi, lalang yang tumbuh, seseorang mengandung akan mengharapkan seorang manusia, kiranya lahir anak buaya atau kerbau hendak mengendarai kuda, kuda itu kebetulan jadi katak, telinganya yang sebelah terjadi dari telinga keldai, kakinya kaki harimau, perutnya perut manusia, dan mulutnya mulat babi. Sebab asal benda hanya satu saja. Kalau tak ada yang mengatur dan mengurus perjalanan aturannya, tentulah kacau. Sedangkan manusia 'binatang' yang besar tidak boleh mengatur diri sendiri apalagi binatang atau benda yang sangat kecil itu.

Menurut Charles Darwin, alam ini berjalan menurut satu aturan saja iaitu aturan "attathawwur wal irtiqa'a" (naik dan maju). Sebab itu sebelum ada jenis gajah yang seperti sekarang, telah ada lebih dahulu sejenis gajah di zaman purbakala yang bernama mammuth, yang ditakdirkan kejadiannya sesuai dengan hawa udara dan tanah yang ada di sekeliling hidupnya semasa itu. Gajah itu ditemukan tulang-tulang atau fosilnya di Siberia meskipun telah beribu-ribu tahun terbenam dalam lapisan air batu.

Demikian pula manusia, sebelum ada jenis manusia yang sekarang telah ada manusia purbakala yang belum berakal cukup seperti manusia sekarang dan tabiatnya lebih mirip monyet.

Aturan 'naik dan maju' itulah rupanya yang di dalam agama dinamai Sunnatullah. Jadi tidaklah dapat dijatuhkan alasan agama yang mengatakan bahawa alam ini, besar dan kecilnya, melalui satu Plan (jalan) yang tertentu di dalam takdir dan kehendak Ilahi Yang Maha Kuasa.

2. Ada Allah.

Sewaktu otak manusia jernih dan bersih, tidak bercampur kesombongan dan tidak hanya percaya kekuatan diri sendiri yang kerapkali salah itu, timbullah dlam hatinya perasaan bahawa ada yang mengatur alam ini. Pengakuan atas adanya yang mengatur alam, adalah pengakuan asli manusia. Perasaan itu mesti timbul bilamana dia memperhatikan alam seisinya.

Bertambah besar perhatiannya, bertambah terbuka hijabnya. Hijab yang tertutup adalah pada ilmu yang belum sampai, masih di tengah perjalanan. Setengah manusia yang sombong dicukupkannya saja perasaannya sehingga ilmu yang tanggung dan setengahnya pula sudah terasa di hati sanubarinya bahawa memang ada yang menjadikan alam, tetapi tidak dinyatakannya perasaannya itu lantaran kalau dia percaya dengan "Yang Menjadikan", mesti dia disebut orang beragama, sedang beragama itu menurut aturan sekarang, adalah kolot.

Memang 'ada' yang menjadikan alam. Tentang namanya itu adalah menurut perasaan sendiri-sendiri. Boleh dinamai 'Yang Menjadikan", "Yang Menyusun", "Yang Mengatur", "Yang Lebih Berkuasa". Oleh agama, nama itu disimpulkan di dalam satu perkataan ialai : ALLAH!.


0 comments »

0 comments